Kemajuan Teknologi Mata Bionik, Asa Baru Bagi Orang Buta yang Ingin Melihat Dunia

Kemajuan Teknologi Mata Bionik, Asa Baru Bagi Orang Buta yang Ingin Melihat Dunia

global.gerbangindonesia.org – Kemajuan Teknologi Mata Bionik, Asa Baru Bagi Orang Buta yang Ingin Melihat Dunia

Di suatu masa, ada sekawanan domba Australia, dengan penglihatan yang amat tajam. Sekawanan kecil fauna ini menghabiskan tiga bulan pada tahun lalu mengenakan bionik, mata protesis, yang ditanam di belakang retina mereka.

Domba ini adalah bagian uji coba medis yang tujuan kelanjutannya adalah menolong orang-orang dengan sebagian jenis kebutaan untuk bisa melihat dan memandang.

Tujuan spesifik uji coba pada domba ini adalah untuk menyaksikan apakah alat yang ditanam didalam mata mereka, Phoenix 99, bisa membawa dampak reaksi fisik – mata protesis atau mata bionik ini bisa ditoleransi dengan baik oleh binatang.

Hasilnya, saat ini izin sudah diajukan untuk mulai melaksanakan uji coba pada pasien manusia.

Project ini dijalankan team peneliti berasal dari Universitas Sydney dan Universitas New South Wales, Australia.

Dikutip  dari Bbc, Senin (14/2)), Phoenix 99 ini nirkabel yang disambungkan dengan suatu kamera kecil yang dipasang pada kacamata, yang bekerja dengan menstimulasi pemilik retina. Retina adalah laporan sel yang sensitif pada cahaya di belakang mata yang mengubah cahaya jadi pesan-pesan elektrik, dikirim ke otak lewat saraf optik, dan diproses jadi apa yang kita lihat.

Perangkat Phoenix 99 bisa melewati sel retina yang rusak, dan ‘Membawa dampak’ sel-sel yang masih bisa bekerja.

“Tidak ada reaksi yang tidak diinginkan dari jaringan sekitar perangkat, dan kami harap bisa tetap terpasang selama bertahun-tahun,” jelas ahli biomedis Fakultas Teknik Biomedis Universitas Sydney, Samuel Eggenberger.

Sedikitnya 2,2 juta orang di semua dunia menderita gangguan penglihatan, mulai berasal dari taraf rungan hingga kebutaan keseluruhan, menurut Who. Efek kebutaan ini menurut WHO berpengaruh pada perekonomian dunia gara-gara masalah dengan hilangnya produktivitas.

Harga fantastis

Dokter spesialis mata yang berbasis di New Jersey, Dr Diane Hilal-Campo mengatakan penemuan semacam ini tidak hanyalah mempermudah penaksiran dan lebih presisi, namun juga mengubah perawatan pasien jadi lebih baik.

Dia mencontohkan mata bionik yang udah ditanamkan di lebih dari 350 pasien di semua dunia yang disebut Argus II berasal dari corporate As, Second Sight.

Argus II bekerja dengan cara yang serupa layaknya Phoenix 99, dan versi awalnya pertama kali dipasang kepada seorang pasien pada 2011.

Second Sight selagi ini lagi mengerjakan product baru yang disebut Orion. Ini adalah implan pada otak, dan corporate mengatakan tujuannya adalah Orion akan bisa mengobati hampir seluruh type kebutaan. Project ini masih di dalam termin uji klinis awal.

Sistem mata bionik lainnya adalah Prima, dikembangkan corporate Prancis, Pixium Vision; dan Bionic Eye System yang dikembangkan team Australia lainnya, Bionic Vision Technology.

Menurut Dr Hilal-Campo, salah satu masalahnya adalah teknologi ini harganya amat mahal agar membuatnya hanyalah bisa terjangkau untuk kalangan tertentu.

Argus Ii, misalnya, harganya mencapai USD 150.000 atau lebih kurang Rp 2,1 miliar.
Dia menambahkan, sebab teknologinya masih didalam termin awal, hasilnya belum mendekati sempurna.

“Saya tidak punya keraguan bahwa teknologi tersebut telah mengubah hidup para pasien yang cukup beruntung menerima cangkok ini,” jelas Dr Hilal-Campo.
“Tapi saat ini, teknologi ini terbatas, hanya memungkinkan persepsi cahaya dan bayangan, dan, sampai batas tertentu, bentuk,” lanjutnya.

“(Tapi) saya optimis, dalam beberapa tahun mendatang, perusahaan bioteknologi akan terus menemukan cara baru untuk membantu mengembalikan penglihatan mereka yang mengalami kehilangan penglihatan.”

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.