Tahukah Anda Sejarah Kutang di Indonesia: Dari Proyek Jalan Anyer-Panarukan hingga Kutang Suroso

Tahukah Anda Sejarah Kutang di Indonesia Dari Proyek Jalan Anyer-Panarukan hingga Kutang Suroso

global.gerbangindonesia.org – Tahukah Anda Sejarah Kutang di Indonesia: Dari Proyek Jalan Anyer-Panarukan hingga Kutang Suroso

Kutang adalah pakaian dalam perempuan untuk menutupi payudara.
Kutang terdiri atas kain berbentuk mangkuk, tali bahu, ban berkerut untuk menyangga dada.

Penyebutan kata “Kutang” barangkali telah jarang dijumpai didalam pergaulan, gara-garanya kini, orang-orang lebih lazim menyebutnya dengan bra.

Sejarah kutang di Indonesia

Sejarah kutang di Indonesia bisa ditarik sampai ke awal abad ke-19 dan zaman penjajahan Belanda.

Sulistiyoningrum, dalam tugas akhir di Jurusan Jurusan Teknik Boga dan Busana Universitas Negeri Yogyakarta menyebut, perempuan di Jawa masih jarang memakai penutup payudara. Termasuk juga disebutkan di Pulau Bali.

“Sampai awal abad ke-19 di tempat Jawa masih tak terhitung masyarakat wanita yang bertelanjang dada. Mereka hanyalah mengenakan penutup di bagian bawah,” tulis sulistiyoningrum dalam tugas akhir berjudul Kostum Tari Indhel dengan Sumber Ide Kutang Suroso, pada tahun 2011.

Jalan Anyer-Panarukan

Sejarah pemakaian kutang di Indonesia dimulai pada awal abad 19 ketika dimulainya pembangunan projek jalan Deandels dari Anyer hingga Panarukan.

Seorang pembantu setia Gubernur Jenderal yang bertanggung jawab pada aplikasi projek itu adalah Don Lopez comte de Paris anak-anak Spanyol.

Don Lopez merupakan orang yang pertama kali menyuruh para pekerja paksa projek jalan Anyer Panarukan tersebut untuk menutup bagian payudaranya.

Kepada budak-budak dari Semarang yang mengerjakan jalan pos di kota itu Don Lopez memotong kain putih dan memberi kepada salah satu budak perempuan.
Sambil menambahkan potongan dia berkata “Tutup bagian berharga itu..”. Didalam bahasa Perancis kata berharga disebut “Coutant” yang terdengar layaknya kutang.

Setelah itu, para pekerja wanita mulai menyobek kain-kain putih untuk menutupi bagian payudara mereka, lantas kain penutup itu dikenal sebagai kutang hingga saat ini.

Waktu itulah orang Indonesia mulai mengenal kutang dan mulai mengembangkan dalam bentuk yang sangat sederhana.

Kutang Suroso

Tahukah Anda Sejarah Kutang di Indonesia Dari Proyek Jalan Anyer-Panarukan hingga Kutang Suroso

Kutang lalu jadi budaya kaum wanita pribumi, pertumbuhan kutang berlanjut hingga Indonesia merdeka. Sehabis beberapa tahun merdeka, sesudah itu mulai populer kutang tipe baru yang dikenal dengan Kutang Suroso.

“Kutang Suroso merupakan bentuk pengembangan pertama dari kutang di Indonesia,” kata Sulistiyoningrum dikutip dari NationalGeographic. Asal sebutan Kutang Suroso diperkirakan berasal dari julukan Suroso yang populer pada 1960 sesudah berhasil memproduksi kutang yang digandrungi banyak wanita di pelosok Yogayakarta dan Jawa Tengah.

Sekarang, lokasi sentral pembuatan Kutang Suroso berada di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah. Penyebaran Kutang Suroso berjalan pada zaman revolusi, berbarengan dengan tumbuhnya industri Kutang Suroso di Pulau Jawa.

“Bentuk dasar kutang merupakan bentuk pakaian yang tertua, bahkan sebelum orang mengenal adanya kain lembaran yang berupa tenun, orang sudah mengenal bentuk pakaian ini,” ungkap Sulistiyoningrum.

Menjelang tahun 1980, Kutang suroso lebih banyak dipakai oleh wanita-wanita lanjut usia. “Penggunaan bagi mbah-mbah (nenek-nenek dalam bahasa Jawa) dalam memakai kutang suroso dengan alasan nyaman dipakai,” tulis Sulistiyoningrum.

Bentuk Kutang Suroso

Kutang Suroso berbentuk menyerupai silinder atau pipa tabung yang berbahan dasar kulit kayu. Kutang Suroso juga sanggup menutupi tubuh dari bawah ketiak hingga panjang yang diinginkan.

Kekhasan dari Kutang Suroso terdapat di bagian kancing yang terletak di bagian muka, berbeda dengan kutang atau BH kotemporer dan modern. Keberadaan kancing atau pengait kutang di bagian depan sanggup mempermudah penggunanya untuk menggapainya.

Hal tersebutlah yang kerap dikeluhkan oleh wanita lanjut usia sebab sering terkilir ketika menggapai pengait yang biasanya berada di bagian punggung.

Sensasi kutang suroso

Fitri Astuti, seorang yang berminat pada kajian sejarah dan budaya, khususnya perempuan, menjelaskan alasannya mengkoleksi Kutang Surosa di jaman kini. Menurut Fitri, Kutang Suroso merupakan medium pengantar sehingga dapat mengetahui dan merasakan bagaimana jadi perempuan jaman silam.

“Dengan mengenakan Kutang Soroso saya ingin mengalami masa lalu dari sensor kulit dan penampakan visualnya di tubuh saya,” ujarnya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.